Love Story in Poetry
1
Kumasuki dunia baru tanah bumi antah berantah
Ku tak yakin disana ku kan menang ataukah kalah
Orang mencela, menuduh diriku berbuat salah
Namun di sanalah sebuah cinta suci kian merekah
Segalanya menggugah hati tanpa sempat terbayangkan
Terjadi begitu saja, takkan terlukis dalam angan
Tiba-tiba tersingkap, cahaya surga tengah terjelaskan
Kemuliaan budi terkuak dari pembicaraan yang perlahan
Tak kumengerti apa yang kini tengah kualami
Rasa cinta kian membuncah-buncah di dalam hati
Hanya kisah, mampu membangkitkan hasrat dalam diri
Bagaimana seorang wanita membuat perempuan lain iri?
Namun ku tak ingin harga diriku tergadaikan
Aku pun tak ingin hilang dariku kehormatan
Naluriku menolak, egoisme diri terkalahkan
Kuyakinkan diri, ini hanyalah rayuan setan
Namun rasa ingin tahu terus menggerayangi pikiran
‘Bagaimanakah wajahnya?’ itu terus penuhi angan
Apakah ini tak lain hanya sekadar ilusi dan khayalan
Ataukah allah pemilik cinta ingin memberi sebuah jalan
2
Kususuri jalan tinggalkan hari nan melelahkan
Dipayungi surya sore dan angin sepoi menghanyutkan
Tiba-tiba ku tertegun akan datangnya sebuah panggilan
Berat hati ini, tapi naluri tak tega tuk abaikan
Namun ku terkaget bagaimana surga bisa berjalan
Sungguh tak mungkin manusia dan bidadari berkenalan
Wajahnya lugu, lucu, dan indah bagaikan rembulan
Dibalut jilbab putih, liurku pun tak bisa masuk tertelan
Dengan bergetar, tangkupan dua tangan pun kuacungkan
Tak lain dan tak lebih dari sebuah penghormatan
Tak ku tega melanggar syariat Yang Maha Rahman
Tuk menyentuh tangannya bagai sutra dari Catalan
Indah tubuhnya bagaikan seorang penari
Wangi jasadnya bagaikan minyak kesturi
Kulit putihnya bagaikan sebuah timun suri
Cantik dirinya pun terukir lewat manisnya jari-jemari
Kesopanannya terpancar dari tuturnya yang halus dan mendamaikan
Keseluruhan jiwa raganya buat diriku terkesan
Tak ku ingin ku beranjak pergi dan lari meninggalkan
Namun apalah daya, sang waktu datang tuk memisahkan
3
Di saat ku ingin melepaskan letih dan kepenatan
Di saat ku ingin mengisi perut yang sudah kelaparan
Tak kusangka sang bidadari ke arahku ia berjalan
Dengan langkah anggun, sungguh sangat mengagumkan
Perlahan daku tergerak dan berjalan menghampiri
Dengan teman-teman di sampingnya pun aku tak peduli
Pikiranku hanya pada wanita itu seorang diri
Yang wajahnya terus menimbulkan gejolak di hati
Kutanya lagi ihwal dirinya walau telah kuketahui
Bukan apa-apa, hanya sekadar sepatah kata basa-basi
Kupermasalahkan hal remeh yang biasa terjadi
Walau yang kuingin hanya deretan nomor yang ia miliki
Ku tertegun, yang terjadi tak seperti yang kubayangkan
Kata-kata meluncur bagai foton satuan demi satuan
Ia pemalu, namun tak seperti puteri manis dalam pingitan
Dalam sekejap, sebaris angka pun telah ada dalam genggaman
Tak berlama-lama kusampaikan salam perpisahan
Tak kuingin ia menganggapku pria yang membosankan
Kuingin biarkan ini bagai arus sungai perlahan berjalan
Lagipula kosong perutku menanti masuknya sesuap makanan
4
Tak kuduga rasa ini datang menerpa begitu saja
Cinta datang tanpa ingin, tanpa pernah terencana
Ku tak pernah tahu ia datang dari sisi hati yang mana
Yang kutahu ia kan kekal bersemayam di dalam dada
Bermula dari kisah singkat seorang kawan
Yang tak kuanggap lebih daripada sebuah selingan
Lama-lama ceritanya buat hatiku keranjingan
Hingga orang anggap antara kami ada hubungan
Padahal ia hanya menceritakan seorang bidadari
Yang ia temani hingga tidur di malam hari
Yang kemolekan tebuhnya membuat semua orang iri
Yang indah akhlaknya membuat kita rendah diri
Dan ternyata itu bukan khayalan belaka
Kulihat jelas dengan dua mata lebar terbuka
Jasad tertutup oleh sesempurna-sempurnanya muka
Seorang malaikat tergelincir keluar dari alam baka
Mana mungkin kuabaikan lagi kenyataan ini
Yang telah membuat seluruh bulu kudukku berdiri
Kukejar tentang dia antara hari dengan hari
Walau keringat terkucur dan jasadku pun tersakiti
5
Tak terasa cinta ini telah terkurung di dalam hati
Wajah putihnya siang dan malam terus membayangi
Suci akhlaknya mengisi pikiran sepanjang hari
Terus memenuhi angan, si bidadari seorang diri
Seorang malaikat masih juga mempunyai jati diri
Kugali itu walau tanah menghancurkan dua ibu jari
Ternyata ia datang dari tanah negeri seribu candi
Kubayangkan dialah seorang dewi turun ke bumi
Ku terngiang betapa dungunya sejumlah lelaki
Yang membiarkan seorang puteri tetap saja seorang diri
Padahal mereka bertemu dan saling sapa saban hari
Sedangkan satu tatap saja telah membuat diriku ini jatuh hati
Wajahnya segar bagaikan embun di fajar hari
Harum semerbak bagaikan sekuntum bunga melati
Inikah yang orang kata sebagai cinta yang sejati
Cinta yang tak akan hilang walau kian dimakan hari
Namun ada satu titik membuat diriku sangsi
Mungkinkah si bulan kan bertemu hati dengan matahari
Mungkinkah seorang hina mendapatkan cinta seorang bidadari
Akankah bidadari menerima cinta si yatim ini
6
Ku tidak pulang walau matahari hendak pergi
Kutinggalkan waktu istirahatku yang pendek di sore hari
Hanya untuk mendekati tempat tinggal si bidadari
Ku cukup bahagia walau hanya sekedar melewati
‘Iseng!’, itulah alasan yang kupakai saban hari
Walau udang dibalik batu bersembunyi dalam hati
Kuselingi malam hari dengan menjalin silaturahmi
Walau tujuan utama tetap melihat wajah pujaan hati
Meski tersirat, namun kelakuan tetap terlihat jelas
Kini fitnah, walaupun salah, tetap saja tersebar luas
Kuberitahu rahasia hati hanya pada teman satu kelas
Agar kelak tak membuatku gatal bagaikan getah buah talas
Terus saja kusambangi walau dengan tertatih-tatih
Kubuka puasa di sana walau hanya dengan air putih
Di sana ku tak pernah sekalipun merasakan sedih
Karena ia ada di sana dengan wangi bak sebotol misik putih
Kalau ku tak ingat kaidah tentu ku tak akan pulang
Ku kan menanti di depan peraduannya hingga pagi menjelang
Terlihat jelas cerita ini akan berbelit dan memanjang
Tak dapat terlukis jelas walau sejuta puisi telah kukarang
7
Suatu hari kuhadap Allah dalam shalat yang khusyuk
Terasa ketenangan jiwa dan kedamaian hati datang merasuk
Hilang semua penyakit hati dan berbagai niatan busuk
Walau malam telah mencekam kulalui tanpa kantuk
Kutinggalkan rumah Allah tanpa harus bergegas-gegas
Tapi tidak juga dengan keluh kesah dan berbagai rasa malas
Kuhampiri dan kuajak berjalan salah seorang kakak kelas
Tanpa maksud apa-apa selain silaturahmi terjalin keras
Tak kusangka si bidadari sedang berada di teras rumahnya
Baru kulihat bidadari sedang duduk, oh betapa anggunnya
Wajah putihnya terselimuti jilbab hitam, oh betapa cantiknya
Keindahannya terekam jelas walau di balik sejuta temannya
Pada yang di sisiku kusampaikan salam perpisahan
Walau ia amirul mukminin sekalipun akan kutinggalkan
Tentu dangan tetap menjaga sejuta butir kehormatan
Dengan salam yang mencerminkan adanya keimanan
Kuhampiri sang puteri walaupun dengan ketegangan
Inilah yang kutunggu dari sebaris penuh penantian
Kuyakin Allah tetap menyediakan hambanya berbagai jalan
Ini bukan akhir, tapi hanya sebah awal yang menyenangkan
8
Tetap kudekati walau ku tak tahu apa yang harus kukatakan
Pada dia yang jelitanya terus memenuhi dunia angan
Pada dia yang manisnya telah menyesaki ranah pikiran
Tapi ku yakin di balik perjuangan akan ada sebutir harapan
Kuajukan salam, yang pantas membuka sebuah percakapan
Kuikuti perbincangan dua dayang dan seorang puteri khayalan
Walau raut lugunya mengambil paksa segenggam perhatian
Walau rasa gemasku menjalar nakal menuju dua kepalan
Yang kuingin saat ini hanyalah sebuah pertemanan
Ku tak ingin ia terus memanggilku dengan sebutan ‘fulan’
Toh nantinya ia akan menyaksikan deru laju kenyataan
Seorang pemuda yang terjebak dalam dunia percintaan
Tak sanggup ku memandang pada wajahnya yang berseri-seri
Yang kecantikannya hanya sedikit dikalahkan ratu bidadari
Dan ku tak mampu melawan perintah dari sang Ilahi Rabbi
Yang mengancam hambanya dengan neraka yang berapi-api
Ku merasa sangat nyaman walau tak jua ku diberi kursi
Semua yang terucap pun tak hanya sebuah basa-basi
Mungkin bukan kata bijak yang sarat dengan isi
Ku hanya menjaga agar tak ada wajah yang pucat pasi
9
Hatiku tak bisa tenang walau angina dingin menerpa
Otak terus berpikir selanjutnya harus bicara apa
Hanya percakapan namun tak semudah mengukur depa
Tentu saja pengalaman ini tak akan pernah aku lupa
Tak lama ku bertahan seperti interogasi si polisi
Ku memohon diri pada sang puteri dan meminta permisi
Lagipula si perut bodoh belum juga lagi terisi
Lagi-lagi ia merengak hanya karena ingin sesuap nasi
Kutinggalkan si cantik dengan tingginya kurasa menal
Hanya rasa senang dan tak tersisa sedikitpun rasa sesal
Semoga hati bidadari tak sekeras batu koral
Yang enggan bercinta dengan pencintanya tanpa bekal
Dengan pelan kususuri jalan dengan hasrat nan memuncak
Mata terpejam dan terlesu bagai sedang memakai celak
Badan lemas tampak kuyu bagai setelah kelas ilmu falak
Ketika ditanya apapun kan kujawab dengan kata ‘tidak!’
Kususuri jalan gelap yang kini menjadi gulita
Dengan mata tak terlihat seperti sedang terbata-bata
Kukembali melewati beragam aneh kebisingan kota
Yang riuhnya melebihi girang-gemirang sejuta pesta
September 27th, 2006 at 7:59 pm
Akhi, jika kau telah yakin segeralah ta’aruf dan khitbah bidadarimu itu. jangan biarkan sedikitpun setan mengendalikan matamu, apalagi mata hatimu. smoga 4JJ1 SWT senantiasa meringankan langkahmu.