Archive for September, 2006

My poet VI-X

Tuesday, September 26th, 2006

VI

Kini kusadari betapa bodohnya diriku

Terpikat erat hanya dengan sebongkah cinta semu

Tertarik keras pada seonggok tubuh yang kaku

Membiarkan cinta meresap menembus kuku-kuku

Kusadari betapa ku ingin mendapatkan cintanya

Namun maafkanku, ukhti, ini bukan waktunya

Ku telah berani menembus batas yang tak sepantasnya

Merasa kecewa dan idiot melawan keagunganNya

Bulan saksi ku menangis sejadi-jadinya

Merasa tubuh tak berguna dan tak berdaya

Rasa malu menyelimuti kaki hingga kepala

Kuyakin Allah tahu aku sangat mencintainya

Akankah aku akan kembali kecewa??

Mungkinkah aku kembali merasakan luka??

Dapatkah ia memenuhi harapanku padanya??

Bisakah ia mengerti akan apa yang kurasa??

Kuputuskan mencampakkan dunia dan seisinya

Ku memilih cinta yang tak ada penyesalan di dalamnya

Kupastikan ia tahu sampai mati aku mencintainya

Walau aku hanya dapatkan bidadari di dalam surga

VII

Mengapa ia tak mengerti akan apa yang kurasa

Walau ku terus mengawasinya sepanjang masa

Apakah sekujur tubuhnya telah diserang mati rasa

Atau diriku yang tak pantas mendapatkan cintanya

Ya Allah yang Maha Mengerti kemauan hambanya

Tolong masukkan cinta ke dalam relung hatinya

Tolong tanam di otaknya ‘aku sangat mencintainya’

Kan kutunggu sampai Kau berbaik hati tuk mengabulkannya

Kan kujaga ia walau harus membelah hati

Kan kuselimuti ia dengan cintaku yang pasti

Kan kuhiasi harinya dengan kata-kata penuh arti

Aku ini lelaki dan tak pantas ingkari janji

Wahai Allah yang Maha Penerima Doa

Kabulkanlah harapan dari lubuk raga relung jiwa

Walau memang tak ada secercah air menetes dari sisi mata

Engkau pasti tahu derasnya air dari hati di dalam dada

VIII

Wahai orang yang tekadnya seperti banci,

Di mana engkau berjalan??

Lihatlah jalan berliku yang dilalui ADAM,

NUH yang meratap di geladak kapal,

IBRAHIM yang dilemparkan ke kobaran api,

ISMA’IL yang ditelentangkan hendak disembelih,

YUSUF yang dijual murah dan dipenjara,

ZAKARIYA yang digergaji,

YUNUS yang berdoa di perut ikan,

YAHYA yang disembelih,

AYYUB yang dirundung sakit,

DAUD yang banyak menangis,

ISA yang bersama binatang liar,

MUHAMMAD yang menghadapi berbagai macam gangguan

Sementara ENGKAU,

Lebih banyak bercanda dan bermain-main

IX

Cinta bukanlah cinta dengan hanya sebuah cinta

Cinta kan sempurna dengan adanya sepasang cinta

Semoga hilang hijab penghalang antara dua hati

Bagaikan kayu memisahkan magnet dengan besi

Segumpal darah takluk hanya oleh sesosok wajah

Raut muka sayu merona menggetarkan kalbu

Laksana semua rahmat karunia Allah sedang tercurah

Di balik pipi merah dan matanya yang sendu

Keindahan cinta menusuk hati seorang pemuda

Tak kenal henti bagai deru angin di sore hari

Layaknya surga memenuhi penjuru mayapada

Angan melayang tak tentu kesana dan kemari

Seringkali kubertanya sendiri di dalam hati

Kapankah dapat kugapai surga cinta yang hakiki

Kapankah mungkin ia menerima cinta seorang lelaki

Yang terang-benderang laksana seekor matahari

Atas dasar cinta takkan kulepas dirimu walau sekejap

Atas dasar cinta kutunggu kau hingga ajal menjelang

Atas dasar cinta kurela mataku tenggelam dalam silap

Kurela melompat menjemputmu walau jauh jurang terbentang

X

Cinta yang menyatukan hidup Muhammad dengan Aisyah

Cinta yang menghubungkan hati Utsman dan hati Ruqayyah

Cinta yang mendorong Ali memperistri Fathimah

Cinta yang memaksa Ibrahim meminang seorang Sarah

Karena cinta itu kuhabiskan waktu tuk mengingatmu

Karena cinta itu kuserahkan hatiku kepadamu

Karena cinta itu ku tak bisa tidur tiap malam mimpikanmu

Karena cinta itu ku sangat ingin memiliki hatimu

Namun mengapa kau anggap ini hanyalah cinta semu

Tak kaugubris diriku yang mencari perhatianmu

Tak pernah kau anggap kata-kata cintaku kepadamu

Mungkin untukmu diriku tak pantas tuk mendampingimu

Jadi apa lagi yang harus kulakukan untukmu

Tuk meyakinkanmu atas ketulusan cintaku kepadamu

Haruskah kuambilkan seribu bintang untukmu

Atau ku harus mati agar kau menyadari cintaku kepadamu

Tak pernah ku lebih yakin selain cinta ini kepadamu

Layaknya Muhammad dan Ibrahim yang tak ingin sebuah cinta semu

Seperti Utsman dan Ali rasakan manis cinta bagaikan madu

Kumohon terimalah cintaku, bebaskan hati yang terbelenggu

My poet I-V

Tuesday, September 26th, 2006

I

Cukup tahu, cintaku hanya untukmu

Tanpa perlu kau tahu

Namun izinkanlah aku, untuk menyayangimu

Karena dirimu yang aku tunggu

Engkau bidadari, terbangmu semakin tinggi

Membuat nafasku ini, tak berhenti

Kenapa kau anggap diriku teman biasa?

Sudah lama kupendam rasa ini di dalam dada

Masalahku ini kepadamu

Begitu dalam perasaan ini kepadamu

Tapi mengapa kau anggap ini bualan semata?

Kuharap dirimu mengerti apa yang kurasa

Detik demi detik, telah berlalu

Sampai kapan rasa ini menyiksaku

Cinta tak terjawab seperti malam gelap tanpa bintang

Kuingin kau mengerti apa yang telah kupendam

Biarkanlah cinta ini kan kusimpan

Biar kujadikan semua ini menjadi kenangan

Kuharap kau tahu perasaanku kepadamu

Biarpun tak mungkin cinta ini kan bersatu

Kusapu ingatan dalam pikiran

Saat terbersit bayanganmu di dalam angan

Aku yang harapkan satu balasan

Cinta hampa terpendam tanpa ada jawaban

Tatapan pertamamu buat ku terpaku

Pancaran sinar matamu menusuk jantungku

Hanyutkan rasa hati damaikan diri ini

Imajinasiku melayang terbawa mimpi

Walaupun ku tahu dirimu tak merasakan

Adanya getaran cinta yang sangat mendalam

Dari seseorang yang selalu mendambakan

Kehangatan cinta dan kasih sayangmu

Cukup tahu, cintaku kepadamu

Walau kutahu ini hanyalah cinta semu

Biarlah sang waktu yang akan jadi penentu

Aku dan kamu suatu saat mungkin kan bersatu

Entah sampai kapan sanggup menyimpan

Perasaan ini hanya untukmu

Akankah kau dapat mengerti diriku

Yang selalu inginkan dirimu, cukup tahu

Coba lihatlah diriku ini

Hanya diam membisu, mungkin kau mengerti

Tapi mengapa kau begitu

Seolah tak mau tahu adanya diriku untukmu

II

Ukhtiku yang cantik,

Mengapa ketika wajah manismu kulirik

Mendadak anggota tubuhku menjadi panik

Terlupakan olehku sinar mentari yang terik

Laksana magnet yang membuatku tertarik

Ukhtiku yang manis,

Hatiku melahirkan sejuta tanda Tanya

Kau terlalu sempurna sebagai manusia

Mungkinkah hamba mendapatkan hatimu

Dengan hanya bermodalkan rasa cinta kepadamu

Ukhtiku yang pemalu,

Kini kusadari rasa cinta dalam hatiku

Kau telah membuat ragaku terasa beku

Dan kuingin kau menjadi bidadariku

Maukah kau menikah denganku?

III

Hanya dengan mengingat sepatah namanya

Sudah membuat hatiku bagai terpenjara

Takkan kugubris wanita cantik selain dirinya

Karena ku telah merasa menjadi miliknya

Terbayanglah segala mimpi-mimpi indah

Untuk mendapatkan seorang wanita shalihah

Yang rela menemani dalam suka dan susah

Dalam ruang keluarga rumah tangga sakinah

Namun apalah daya seorang budak belian

Bagai seekor semut bermimpi menuju bulan

Hanya kuingin hati seorang perempuan

Yang tingkahnya telah membuat ragaku tertawan

Dan ku berharap kau mau menjadi istriku

Guna melengkapi setengah agamaku

Ku tak ingin wanita lain yang menemaniku

Culkup dirimu, dapat menjauhkan fitnah dariku

IV

Di saat wajah cantiknya belum pernah terbayangkan

Di saat jilbab putihnya belum memenuhi angan

Di saat kami berdua masih saling berbeda jalan

Di saat waktu terasa bejalan begitu pelan

Ku hanya sosok kecil yang berlinang air mata

Ku hanya seonggok jasad yang terus-menerus menderita

Ku hanya orang linglung di tengah kebisingan kota

Kehidupanku berjalan membosankan bagaikan grafik yang rata

Kedatangannya terasa mulai membangkitkan rasa

Tiba-tiba kurasa dengan cepat zaman berganti masa

Hasratku membumbung tinggi jauh ke angkasa

Neraka menjadi surga, itulah yang kurasa

Ya Allah,

Kabulkanlah semua permohonanku

Yang kuucap di setiap shalat malamku

Terimalah segala doa-doa ku

Yang ada dalam semua sujud shalatku

Jadikanlah ia sebagai istriku

Yang akan mengisi sisa hari-hariku

V

Sejenak masa ku merasa berada di tepi jurang

Ku tak mengerti haruskah ku menyerah atau perang

Mungkinkah dia dapat menganggapku seseorang

Bisakah aku memberinya rasa kasih dan sayang

Sekejap tadi ku merasakan surga mendekati

Namun tiba-tiba hatiku teriris belati

Ku memang tak bisa membolak-balikkan hati

Akankah cinta ini kubawa sampai mati

Wahai Allah Tabaraka wa Ta’ala

Jangan biarkan ku menjadikannya berhala

Jangan lepaskan ia menguasai isi kepala

Ya Allah, jauhkanlah aku dari hal-hal yang tercela

Hanya kepada Engkau di atas langit ketujuh

Kuingin raga, jiwa, dan hati ini tertuju

Namun wanita ini telah membuat darahku terpacu

Dinginkan kepalaku bagaikan butiran salju

Ya Allah, Tak ada yang kuinginkan selain menikah

Mantaati agama walau hanya setengah

Tapi yang kuingin bukan sekedar wanita muslimah

Yang kudamba hanyalah sebuah akhlak yang karimah

Love Story in Poetry

Tuesday, September 26th, 2006

1

Kumasuki dunia baru tanah bumi antah berantah

Ku tak yakin disana ku kan menang ataukah kalah

Orang mencela, menuduh diriku berbuat salah

Namun di sanalah sebuah cinta suci kian merekah

Segalanya menggugah hati tanpa sempat terbayangkan

Terjadi begitu saja, takkan terlukis dalam angan

Tiba-tiba tersingkap, cahaya surga tengah terjelaskan

Kemuliaan budi terkuak dari pembicaraan yang perlahan

Tak kumengerti apa yang kini tengah kualami

Rasa cinta kian membuncah-buncah di dalam hati

Hanya kisah, mampu membangkitkan hasrat dalam diri

Bagaimana seorang wanita membuat perempuan lain iri?

Namun ku tak ingin harga diriku tergadaikan

Aku pun tak ingin hilang dariku kehormatan

Naluriku menolak, egoisme diri terkalahkan

Kuyakinkan diri, ini hanyalah rayuan setan

Namun rasa ingin tahu terus menggerayangi pikiran

‘Bagaimanakah wajahnya?’ itu terus penuhi angan

Apakah ini tak lain hanya sekadar ilusi dan khayalan

Ataukah allah pemilik cinta ingin memberi sebuah jalan

2

Kususuri jalan tinggalkan hari nan melelahkan

Dipayungi surya sore dan angin sepoi menghanyutkan

Tiba-tiba ku tertegun akan datangnya sebuah panggilan

Berat hati ini, tapi naluri tak tega tuk abaikan

Namun ku terkaget bagaimana surga bisa berjalan

Sungguh tak mungkin manusia dan bidadari berkenalan

Wajahnya lugu, lucu, dan indah bagaikan rembulan

Dibalut jilbab putih, liurku pun tak bisa masuk tertelan

Dengan bergetar, tangkupan dua tangan pun kuacungkan

Tak lain dan tak lebih dari sebuah penghormatan

Tak ku tega melanggar syariat Yang Maha Rahman

Tuk menyentuh tangannya bagai sutra dari Catalan

Indah tubuhnya bagaikan seorang penari

Wangi jasadnya bagaikan minyak kesturi

Kulit putihnya bagaikan sebuah timun suri

Cantik dirinya pun terukir lewat manisnya jari-jemari

Kesopanannya terpancar dari tuturnya yang halus dan mendamaikan

Keseluruhan jiwa raganya buat diriku terkesan

Tak ku ingin ku beranjak pergi dan lari meninggalkan

Namun apalah daya, sang waktu datang tuk memisahkan

3

Di saat ku ingin melepaskan letih dan kepenatan

Di saat ku ingin mengisi perut yang sudah kelaparan

Tak kusangka sang bidadari ke arahku ia berjalan

Dengan langkah anggun, sungguh sangat mengagumkan

Perlahan daku tergerak dan berjalan menghampiri

Dengan teman-teman di sampingnya pun aku tak peduli

Pikiranku hanya pada wanita itu seorang diri

Yang wajahnya terus menimbulkan gejolak di hati

Kutanya lagi ihwal dirinya walau telah kuketahui

Bukan apa-apa, hanya sekadar sepatah kata basa-basi

Kupermasalahkan hal remeh yang biasa terjadi

Walau yang kuingin hanya deretan nomor yang ia miliki

Ku tertegun, yang terjadi tak seperti yang kubayangkan

Kata-kata meluncur bagai foton satuan demi satuan

Ia pemalu, namun tak seperti puteri manis dalam pingitan

Dalam sekejap, sebaris angka pun telah ada dalam genggaman

Tak berlama-lama kusampaikan salam perpisahan

Tak kuingin ia menganggapku pria yang membosankan

Kuingin biarkan ini bagai arus sungai perlahan berjalan

Lagipula kosong perutku menanti masuknya sesuap makanan

4

Tak kuduga rasa ini datang menerpa begitu saja

Cinta datang tanpa ingin, tanpa pernah terencana

Ku tak pernah tahu ia datang dari sisi hati yang mana

Yang kutahu ia kan kekal bersemayam di dalam dada

Bermula dari kisah singkat seorang kawan

Yang tak kuanggap lebih daripada sebuah selingan

Lama-lama ceritanya buat hatiku keranjingan

Hingga orang anggap antara kami ada hubungan

Padahal ia hanya menceritakan seorang bidadari

Yang ia temani hingga tidur di malam hari

Yang kemolekan tebuhnya membuat semua orang iri

Yang indah akhlaknya membuat kita rendah diri

Dan ternyata itu bukan khayalan belaka

Kulihat jelas dengan dua mata lebar terbuka

Jasad tertutup oleh sesempurna-sempurnanya muka

Seorang malaikat tergelincir keluar dari alam baka

Mana mungkin kuabaikan lagi kenyataan ini

Yang telah membuat seluruh bulu kudukku berdiri

Kukejar tentang dia antara hari dengan hari

Walau keringat terkucur dan jasadku pun tersakiti

5

Tak terasa cinta ini telah terkurung di dalam hati

Wajah putihnya siang dan malam terus membayangi

Suci akhlaknya mengisi pikiran sepanjang hari

Terus memenuhi angan, si bidadari seorang diri

Seorang malaikat masih juga mempunyai jati diri

Kugali itu walau tanah menghancurkan dua ibu jari

Ternyata ia datang dari tanah negeri seribu candi

Kubayangkan dialah seorang dewi turun ke bumi

Ku terngiang betapa dungunya sejumlah lelaki

Yang membiarkan seorang puteri tetap saja seorang diri

Padahal mereka bertemu dan saling sapa saban hari

Sedangkan satu tatap saja telah membuat diriku ini jatuh hati

Wajahnya segar bagaikan embun di fajar hari

Harum semerbak bagaikan sekuntum bunga melati

Inikah yang orang kata sebagai cinta yang sejati

Cinta yang tak akan hilang walau kian dimakan hari

Namun ada satu titik membuat diriku sangsi

Mungkinkah si bulan kan bertemu hati dengan matahari

Mungkinkah seorang hina mendapatkan cinta seorang bidadari

Akankah bidadari menerima cinta si yatim ini

6

Ku tidak pulang walau matahari hendak pergi

Kutinggalkan waktu istirahatku yang pendek di sore hari

Hanya untuk mendekati tempat tinggal si bidadari

Ku cukup bahagia walau hanya sekedar melewati

‘Iseng!’, itulah alasan yang kupakai saban hari

Walau udang dibalik batu bersembunyi dalam hati

Kuselingi malam hari dengan menjalin silaturahmi

Walau tujuan utama tetap melihat wajah pujaan hati

Meski tersirat, namun kelakuan tetap terlihat jelas

Kini fitnah, walaupun salah, tetap saja tersebar luas

Kuberitahu rahasia hati hanya pada teman satu kelas

Agar kelak tak membuatku gatal bagaikan getah buah talas

Terus saja kusambangi walau dengan tertatih-tatih

Kubuka puasa di sana walau hanya dengan air putih

Di sana ku tak pernah sekalipun merasakan sedih

Karena ia ada di sana dengan wangi bak sebotol misik putih

Kalau ku tak ingat kaidah tentu ku tak akan pulang

Ku kan menanti di depan peraduannya hingga pagi menjelang

Terlihat jelas cerita ini akan berbelit dan memanjang

Tak dapat terlukis jelas walau sejuta puisi telah kukarang

7

Suatu hari kuhadap Allah dalam shalat yang khusyuk

Terasa ketenangan jiwa dan kedamaian hati datang merasuk

Hilang semua penyakit hati dan berbagai niatan busuk

Walau malam telah mencekam kulalui tanpa kantuk

Kutinggalkan rumah Allah tanpa harus bergegas-gegas

Tapi tidak juga dengan keluh kesah dan berbagai rasa malas

Kuhampiri dan kuajak berjalan salah seorang kakak kelas

Tanpa maksud apa-apa selain silaturahmi terjalin keras

Tak kusangka si bidadari sedang berada di teras rumahnya

Baru kulihat bidadari sedang duduk, oh betapa anggunnya

Wajah putihnya terselimuti jilbab hitam, oh betapa cantiknya

Keindahannya terekam jelas walau di balik sejuta temannya

Pada yang di sisiku kusampaikan salam perpisahan

Walau ia amirul mukminin sekalipun akan kutinggalkan

Tentu dangan tetap menjaga sejuta butir kehormatan

Dengan salam yang mencerminkan adanya keimanan

Kuhampiri sang puteri walaupun dengan ketegangan

Inilah yang kutunggu dari sebaris penuh penantian

Kuyakin Allah tetap menyediakan hambanya berbagai jalan

Ini bukan akhir, tapi hanya sebah awal yang menyenangkan

8

Tetap kudekati walau ku tak tahu apa yang harus kukatakan

Pada dia yang jelitanya terus memenuhi dunia angan

Pada dia yang manisnya telah menyesaki ranah pikiran

Tapi ku yakin di balik perjuangan akan ada sebutir harapan

Kuajukan salam, yang pantas membuka sebuah percakapan

Kuikuti perbincangan dua dayang dan seorang puteri khayalan

Walau raut lugunya mengambil paksa segenggam perhatian

Walau rasa gemasku menjalar nakal menuju dua kepalan

Yang kuingin saat ini hanyalah sebuah pertemanan

Ku tak ingin ia terus memanggilku dengan sebutan ‘fulan’

Toh nantinya ia akan menyaksikan deru laju kenyataan

Seorang pemuda yang terjebak dalam dunia percintaan

Tak sanggup ku memandang pada wajahnya yang berseri-seri

Yang kecantikannya hanya sedikit dikalahkan ratu bidadari

Dan ku tak mampu melawan perintah dari sang Ilahi Rabbi

Yang mengancam hambanya dengan neraka yang berapi-api

Ku merasa sangat nyaman walau tak jua ku diberi kursi

Semua yang terucap pun tak hanya sebuah basa-basi

Mungkin bukan kata bijak yang sarat dengan isi

Ku hanya menjaga agar tak ada wajah yang pucat pasi

9

Hatiku tak bisa tenang walau angina dingin menerpa

Otak terus berpikir selanjutnya harus bicara apa

Hanya percakapan namun tak semudah mengukur depa

Tentu saja pengalaman ini tak akan pernah aku lupa

Tak lama ku bertahan seperti interogasi si polisi

Ku memohon diri pada sang puteri dan meminta permisi

Lagipula si perut bodoh belum juga lagi terisi

Lagi-lagi ia merengak hanya karena ingin sesuap nasi

Kutinggalkan si cantik dengan tingginya kurasa menal

Hanya rasa senang dan tak tersisa sedikitpun rasa sesal

Semoga hati bidadari tak sekeras batu koral

Yang enggan bercinta dengan pencintanya tanpa bekal

Dengan pelan kususuri jalan dengan hasrat nan memuncak

Mata terpejam dan terlesu bagai sedang memakai celak

Badan lemas tampak kuyu bagai setelah kelas ilmu falak

Ketika ditanya apapun kan kujawab dengan kata ‘tidak!’

Kususuri jalan gelap yang kini menjadi gulita

Dengan mata tak terlihat seperti sedang terbata-bata

Kukembali melewati beragam aneh kebisingan kota

Yang riuhnya melebihi girang-gemirang sejuta pesta

BIOGRAFIKU

Sunday, September 3rd, 2006

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim

Dengan langkah gontai kususuri jalan beton menanjak menuju rumah nenekku. Matahari bersinar sangat terik di hari kamis ini sampai-sampai aku merasa bagai pepes yang sedang dipanaskan di dalam Mikrolet M.24 yang membawaku pulang dari daerah sekitar Universitas Bina Nusantara tadi.

            

Sesampai di rumah, aku mengambil kunci di bawah keset. Aku tahu tak mungkin ada orang di rumah dan kunci rumah pasti diletakkan di

sana

. Aku langsung membuka baju sesampainya diriku di kamar dan langsung berganti pakaian. Kutenggak segelas air yang terasa sejuk menyeberangi tenggorokan hingga ke lambungku.

Aku duduk dan membuka kitab hadits ‘Fathul Baari’ jilid 1, penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari, yang dikarang Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Di jilid ini Ibnu Hajar menjelaskan tentang dasar-dasar Islam seperti Iman, Ilmu, dll. Buku ini baru selesai kubaca kemarin dan ingin kubaca lagi karena isinya yang cukup sulit dipahami. Siapa tahu dengan kubaca berkali-kali, sumber berjuta ilmu ini dapat memberiku sesuatu yang berguna dalam hidupku. Baru saja aku duduk dan membuka lembaran pertama, tiba-tiba terdengar suara orang datang.

“A…ass…alamu…alaikum” terdengar suara sepupuku yang datang dengan salam yang tergagap-gagap. Maklumlah masih anak-anak, Panji namanya. Sesaat kemudian ibunya yang merupakan adik ibuku, Mbak Cici, datang menyongsong.

“Sendirian di rumah, Dit?”

“Iya, Mbak!”

“Nggak ke rumah sakit?” Mbak Cici duduk di sofa di ruang tamu itu dan meletakkan tas yang biasa dibawanya bila menginap di sini di sebelah sofa itu. Tas itu pasti berisi pakaian-pakaian dan perlengkapan Panji.

“Lagi nggak, soalnya besok ada ulangan matematika. Mau belajar dulu”

“Ibumu lagi SEKARAT, loh di rumah sakit sekarang!”

Kata-kata itu membuatku terlonjak. Jantungku langsung berdetak dengan sangat cepat. Perlahan kututup kitab di hadapanku yang baru saja kubuka. Ibuku memang sedang terbaring di Ruang ICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto yang berdiri di sebelah Atrium Senen,

Jakarta

. Dan karena itu pula rumah nenekku yang biasa kutempati ini kini tak berpenghuni. Aku jadi ingat peristiwa yang memaksa ibuku dirawat di

sana

. Sekitar seminggu yang lalu……

**********

Sekitar seminggu yang lalu, aku sedang tertidur di kamar depan rumah nenekku bersama dengan adikku. Kebetulan malam itu nenekku –yang biasa kupanggil ‘Mbah Uti’—sedang menginap di rumah Mbak Cici yang berada di daerah Taman Asri, Larangan. Rumah itu hanya dihuni olehku, adikku, ayahku, ibuku, dan kakak lelaki ibuku, Pa’de Eko.

Tiba-tiba sekitar pukul 3 dini hari, terdengar suara gaduh seperti barang dibanting-banting yang membangunkanku dari tidur. Sebenarnya suara itu berasal dari arah belakang rumahku, namun aku meyakinkan diri dan hatiku bahwa suara itu berasal dari rumah tetangga nenekku yang memang sering berisik walau di malam hari. Dengan rasa sedikit takut, kusingkap gorden jendela dan kulihat suasana di luar. Suasana di depan rumah nenekku sangat sepi dan hanya diselimuti kegelapan malam. Tapi suara ribut itu terus terdengar. Dan tiba-tiba……..

Terlihat pintu rumah nenekku terbuka keras seperti dibanting dan kulihat bapakku dan Pa’de Eko berhamburan keluar menuju keran air di samping kamarku. Sayup-sayup kudengar teriakan “kebakaran…..kebakaran”. Aku terkejut dan langsung terdiam. Aku tak tahu harus berbuat apa. Perlahan kubuka pintu kamarku dan keluar menuju teras. Tetangga-tetangga nenekku telah banyak keluar dan memberikan bantuan.

Seketika aku tersadar dan langsung ikut membantu. Kuraih ember hitam yang kulihat menganggur dan penuh dengan air. Kuangkat ember itu mengikuti orang-orang

Misguidance

Saturday, September 2nd, 2006

All Innovation (in the Religion) is Misguidance

Know that the people never introduce an innovation until they abandon its like from the Sunnah. So, beware of newly invented matters, since every newly invented matter is an innovation and every innovation is misguidance and misguidance and its people are in the Fire.